Bagi sebagaian orang mungkin heran, ngece (melecehkan) ketika mendengar masyarakat Gunung Kidul mengkonsumsi belalang dengan jenis belalang kayu. Ada sih yang berkomentar "opo enak? opo gak nggateli (bikin gatel), atau bahkan "nggragas" (memakan yang tidak layak dimakan). tentu tidak dalah berbagai komentar ini, mengingat jenis serangga yang satu ini memang banyak terdapat di daerah yang dulunya tandus, miskin tetapi sekarang boleh berbangga dengan peningkatan kemakmurannya.
Tulisan ini tidak hendak mengupas hubungan antara kebiasaan makan belalang dengan kondisi kemiskinan masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta ini. Tulisan ini mengambil sudut pandang yang lain yakni hubungan antara kebiasaan makan belalang dengan kepedulian lingkungan.
Belalang ini termasuk serangga pemakan daun dan batang muda. hidup di daerah pertanian dan perkebunan. populasinya cukup banyak karena reproduksi dengan telur menghasilkan belalang muda yang cukup banyak. Dengan jumlah yang cukup banyak bisa dibayangkan bagaimana daun-daun muda tumbuhan pertanian akan habis dimakan oleh belalang ini. Apaligi jika pucuk-pucuk tumbukan seperti kedelai, jagung, dan padi ini termakan belalang tentu gagal panen akan menjadi kenyataan.
Memang keseimbangan ekosistem sudah ada, bahwa burung-burung paling suka dengan belalang terutama yang masih muda yang bisanya hanya meloncat karena belum bisa terbang, tetapi rasio dengan populasi burung yang semakin sedikit dengan jumlah belalang tentu saja tidak balance.
Biasanya petani melalukan pengatasan dengan cara menyemprotkan insektisida. Dan memang terbukti belalang akan mati. Tetapi dengan logika harga obat pertanian yang semakin melambung apakah ini adalah problem solving yang mudah dilakukan. Pun, demikian tentu sudah diketahui bersama isu rusaknya lingkungan hidup mengisyaratkan bahwa pemakaian bahan kimia menjadi pilihan yang jika perlu disingkirkan.
Minggu, 04 Mei 2008
Kamis, 14 Februari 2008
LINGKUNGAN : EMANG GUE HARUS PIKIRIN
LINGKUNGAN : EMANG GUE HARUS PIKIRIN
Kalimat judul di atas merupakan plesetan dari kalimat yang akrab ditelinga yang sering diucapkan dengan dialeg Betawi, yakni Emang gue pikirin.Dan itu menunjukkan suatu keputusan bersikap yang berdekatan dengan makna cuek, acuh, tidak peduli, bahkan tidak gelisah dengan apa yang dialami, ditemui.
Namun, untuk saat ini ketika aneka bencana melanda, dari tsunami Aceh, gempa Jogja, angin puting beliung di Jawa Barat dan Jawa Timur, gelombang pasang, banjir di Jakarta dan Tangerang, Lumpur Lapindo, dsb. kita boleh bertanya, ada apa dengan alam ini?
Lingkungan alam telah rusak. Lapisan Ozon semakin menipis, air sudah tercemar, tanah sudah jenuh daya resapnya, pemanasan sudah mendunia dan volumi air laut semakin besar yang disebabkan oleh mencairya pegunungan es.Mengapa lapisan Ozon menipis sehingga sinar matahari dengan lugas menerobos masuk atmosfir dan langsung ke bumi tanpa ada filter lagi? mengapa air sebagai sumber terpenting bagi kehidupan sudah tidak murni lagi karena tercemar dan membahayakan kesehatan? Mengapa tanah sudah jenuh dan tidak mampu lagi menyerap air hujan datau air yang lain yang menimpanya, sehingga air terus melaju sesuai sifatnya dan berdampak menjadi banjir bandang?Mengapa pegunungan es mencair dan menambah volume air laut, sehingga menyebabkan tingginy air pasang dan gelombang, serta tidak mampu lagi menampung air hujan yang mengalir lewat sungai yang mengarah ke laut?
Jawabannya adalah, kita terlalu sembrono dan bodoh dalam memperlakukan alam ini.Kesembronoan dan kebodohan tersebut tercermin dari berbagai bentuk pengelolaan kehidupan itu sendiri. Banyak tuntutan kebutuhan kayu, sehingga main babat saja hutan, peduli amat ia menjadi gundul. Banyak kebutuhan rumah tangga, pertanian, atau pabrikan untuk meni mempermudah pengatasan masalah dan meningkatkan produksi dengan sarana bahan kimia dan justru membunuh bakteri pengurai ataupun apa namanya yang membuat tanah tersebut tdiak lagi memproses dirinya menjadi yang alami dan subur.
Nah sekarang, setelah tahu hal tersebut kita jugalah yang mesti bertanggung jawab atas dampak-dampak yang menjadikan bumi semakin tidak layak untuk dihuni. Kita harus memualai kembali mempertahankan keharminasan alam yang telah tercipta indah adanya. Kita harus mulai dari diri sendiri. Kita tidak lagi bisa berkata Lingkungan: Emang Gue Pikiran, tetapi menggantinya dengan : Lingkungan Emang Gue harus pikiran
Namun, untuk saat ini ketika aneka bencana melanda, dari tsunami Aceh, gempa Jogja, angin puting beliung di Jawa Barat dan Jawa Timur, gelombang pasang, banjir di Jakarta dan Tangerang, Lumpur Lapindo, dsb. kita boleh bertanya, ada apa dengan alam ini?
Lingkungan alam telah rusak. Lapisan Ozon semakin menipis, air sudah tercemar, tanah sudah jenuh daya resapnya, pemanasan sudah mendunia dan volumi air laut semakin besar yang disebabkan oleh mencairya pegunungan es.Mengapa lapisan Ozon menipis sehingga sinar matahari dengan lugas menerobos masuk atmosfir dan langsung ke bumi tanpa ada filter lagi? mengapa air sebagai sumber terpenting bagi kehidupan sudah tidak murni lagi karena tercemar dan membahayakan kesehatan? Mengapa tanah sudah jenuh dan tidak mampu lagi menyerap air hujan datau air yang lain yang menimpanya, sehingga air terus melaju sesuai sifatnya dan berdampak menjadi banjir bandang?Mengapa pegunungan es mencair dan menambah volume air laut, sehingga menyebabkan tingginy air pasang dan gelombang, serta tidak mampu lagi menampung air hujan yang mengalir lewat sungai yang mengarah ke laut?
Jawabannya adalah, kita terlalu sembrono dan bodoh dalam memperlakukan alam ini.Kesembronoan dan kebodohan tersebut tercermin dari berbagai bentuk pengelolaan kehidupan itu sendiri. Banyak tuntutan kebutuhan kayu, sehingga main babat saja hutan, peduli amat ia menjadi gundul. Banyak kebutuhan rumah tangga, pertanian, atau pabrikan untuk meni mempermudah pengatasan masalah dan meningkatkan produksi dengan sarana bahan kimia dan justru membunuh bakteri pengurai ataupun apa namanya yang membuat tanah tersebut tdiak lagi memproses dirinya menjadi yang alami dan subur.
Nah sekarang, setelah tahu hal tersebut kita jugalah yang mesti bertanggung jawab atas dampak-dampak yang menjadikan bumi semakin tidak layak untuk dihuni. Kita harus memualai kembali mempertahankan keharminasan alam yang telah tercipta indah adanya. Kita harus mulai dari diri sendiri. Kita tidak lagi bisa berkata Lingkungan: Emang Gue Pikiran, tetapi menggantinya dengan : Lingkungan Emang Gue harus pikiran
Penjelasan Nama Blog
Urapan adalah makanan khas dari Jawa yang terdiri dari berbagai sayuran. Nah, blog ini diterbitkan sebagai wahana penulisan pemikiran berbagai hal ipoleksosbudhankampend dan blog ini juga sebagai ajang dialog bagi para orang yang tidak rela pemikiran-pemiikirannya hilang atau tertimbun oleh debu Zaman.
Langganan:
Postingan (Atom)
