Bagi sebagaian orang mungkin heran, ngece (melecehkan) ketika mendengar masyarakat Gunung Kidul mengkonsumsi belalang dengan jenis belalang kayu. Ada sih yang berkomentar "opo enak? opo gak nggateli (bikin gatel), atau bahkan "nggragas" (memakan yang tidak layak dimakan). tentu tidak dalah berbagai komentar ini, mengingat jenis serangga yang satu ini memang banyak terdapat di daerah yang dulunya tandus, miskin tetapi sekarang boleh berbangga dengan peningkatan kemakmurannya.
Tulisan ini tidak hendak mengupas hubungan antara kebiasaan makan belalang dengan kondisi kemiskinan masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta ini. Tulisan ini mengambil sudut pandang yang lain yakni hubungan antara kebiasaan makan belalang dengan kepedulian lingkungan.
Belalang ini termasuk serangga pemakan daun dan batang muda. hidup di daerah pertanian dan perkebunan. populasinya cukup banyak karena reproduksi dengan telur menghasilkan belalang muda yang cukup banyak. Dengan jumlah yang cukup banyak bisa dibayangkan bagaimana daun-daun muda tumbuhan pertanian akan habis dimakan oleh belalang ini. Apaligi jika pucuk-pucuk tumbukan seperti kedelai, jagung, dan padi ini termakan belalang tentu gagal panen akan menjadi kenyataan.
Memang keseimbangan ekosistem sudah ada, bahwa burung-burung paling suka dengan belalang terutama yang masih muda yang bisanya hanya meloncat karena belum bisa terbang, tetapi rasio dengan populasi burung yang semakin sedikit dengan jumlah belalang tentu saja tidak balance.
Biasanya petani melalukan pengatasan dengan cara menyemprotkan insektisida. Dan memang terbukti belalang akan mati. Tetapi dengan logika harga obat pertanian yang semakin melambung apakah ini adalah problem solving yang mudah dilakukan. Pun, demikian tentu sudah diketahui bersama isu rusaknya lingkungan hidup mengisyaratkan bahwa pemakaian bahan kimia menjadi pilihan yang jika perlu disingkirkan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar